Bukhari dan Muslim). Baca juga: 15 Peristiwa Besar yang Terjadi di Hari Asyura 10 Muharram. Hadist tersebut sudah menjelaskan, bahwa dengan kita bersedekah dapat membawa keberkahan. Jika niat kita tulus lillahi ta'ala Insya Allah sedekah sekecil apapun akan diganti oleh Allah lebih dari itu. Sesuai dengan Alqur'an Surat Al-Baqarah:261, Allah
OLEH HASANUL RIZQA Kematian pasti akan terjadi pada setiap orang. Alquran mengajarkan, ada dua keadaan manusia ketika rohnya keluar dari jasadnya. Yang pertama dijelaskan dalam surah an-Nahl ayat 32. Artinya, “Yaitu orang yang ketika diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik, mereka para malaikat mengatakan kepada mereka, Salamun alaikum, masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan'.” Ayat tersebut melukiskan, orang-orang yang beriman dan bertakwa ketika malaikat maut datang untuk mencabut nyawanya, wafat dalam keadaan yang baik husnul khatimah. Sebaliknya, kondisi yang mengerikan terjadi pada orang-orang yang dimurkai Allah SWT. Dalam surah Muhammad ayat 27, terdapat penggambaran mengenai keadaan kaum munafik saat sakratulmaut. “Maka bagaimana nasib mereka apabila malaikat maut mencabut nyawa mereka, memukul wajah dan punggung mereka?” Adapun surah al-An’am ayat 93 melukiskan azab yang dirasakan pelaku kezaliman. “Alangkah ngerinya sekiranya engkau melihat pada waktu orang-orang zalim berada dalam kesakitan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, sambil berkata, Keluarkanlah nyawamu'.” Seorang Muslim tentunya menginginkan kematian yang mudah dan damai. Husnul khatimah, bukan su’ul khatimah. Sewaktu melihat atau mengetahui kabar kematian yang tragis, pikirannya langsung tertuju kepada Allah. Lisannya menggumamkan kalimat istighfar, permohonan ampun kepada-Nya. Berharap agar nasib tragis semisal itu tidak akan dialaminya. Sewaktu melihat atau mengetahui kabar kematian yang tragis, pikirannya langsung tertuju kepada Allah. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Cukuplah kematian sebagai pemberi nasihat.” Maka dari itu, siapapun hendaknya dapat memetik hikmah dari keadaan wafatnya orang lain. Buku Su’ul Khatimah Kisah-kisah Tragis Akhir Kehidupan ini dapat membantu pembaca dalam menggali makna di balik peristiwa maut. Karya Syekh Mahmud al-Mishri tersebut secara komprehensif membicarakan perkara kematian, khususnya yang dialami orang-orang zalim dan mereka yang membangkang perintah Allah Ta’ala. Hal itu tidak bertujuan utama untuk menakut-nakuti, melainkan ajakan untuk merenungi bahwa setiap akibat pasti memiliki penyebabnya. Lebih dari itu, penulis yang akrab disapa Abu Ammar tersebut dengan karangannya ini mengimbau Muslimin untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada-Nya, mumpung hayat masih dikandung badan. Isi keseluruhan kitab Su’ul Khatimah terdiri atas dua bagian, yakni penjelasan mengenai istilah su’ul khatimah dan cerita-cerita tentang sejumlah tokoh yang mengalami kematian buruk. Bab pertama membahas perihal sebuah hadis Rasulullah SAW, yakni “Barangsiapa senang menjumpai Allah, maka Allah senang untuk berjumpa dengannya. Barangsiapa enggan berjumpa dengan Allah, maka Allah pun enggan berjumpa dengannya.” Ibnu al-Atsir dalam kitab Nihayah menafsirkan hadis tersebut. Menurut sang alim, maksud “berjumpa dengan Allah” dalam sabda Nabi SAW itu bukanlah kematian. Sebab, semua orang tidak menyukainya. Mereka yang hati dan pikirannya tertuju kepada Allah, pasti akan melalui kematian. Begitu pula dengan mereka yang terlalu asyik dengan kesenangan fana duniawi. Terlebih lagi, sebagai sebuah kepastian maut adalah jalan yang tidak mungkin tidak dilalui setiap insan. Mereka yang hati dan pikirannya tertuju kepada Allah, pasti akan melalui kematian. Begitu pula dengan mereka yang terlalu asyik dengan kesenangan fana duniawi. Maka, yang dimaksud dengan berjumpa Allah’ dalam konteks ini adalah berjalan menuju alam akhirat dan memohon apa-apa kebaikan yang ada di sisi-Nya. Dapatlah dipahami bahwa hadis di atas mengisyaratkan perbedaan sikap antara orang yang bertakwa dan orang yang zalim dalam melihat kehidupan duniawi. Yang satu tidak larut dalam kesenangan sementara. Adapun yang lain seolah-olah mabuk sehingga melupakan perjumpaan dengan-Nya, yakni ketika Hari Pembalasan tiba. Pandangan ulama Syekh Mahmud al-Mishri mengatakan, para ulama salaf sangat takut akan datangnya akhir yang buruk atau su’ul khatimah. Sebab, mereka mencemaskan semua perbuatan yang telah dilakukannya di masa lalu. Apabila ada kesalahan atau dosa-dosa dilakukan, mungkin saja akibatnya akan mereka jumpai di masa depan atau sesaat menjelang kematian. Ibnu Rajab al-Hanbali berkata, “Amal-amal terakhir merupakan warisan amal-amal sebelumnya.” Para alim tersebut takut berpikiran bahwa ditundanya azab atau siksaan kepada mereka disebabkan oleh perbuatan-perbuatannya. Adanya pikiran itu berpotensi mendorong mereka untuk bersikap sombong serta merasa nyaman ketika melakukan dosa-dosa. Masalah lain terjadi ketika Allah mengetahui kesalahan dan dosa, sedangkan mereka sendiri tidak mengetahui bahwa semua noda itu pada dirinya. Akibatnya, kutukan Allah datang tanpa mereka sadari. Mereka pun sering kali berdoa agar tidak lalai dari muhasabah diri. Karena itu, orang-orang yang bersih hatinya akan selalu tersentuh akan hikmah kematian. Utsman bin Affan pernah berdiri di dekat sebuah makam dan menangis hingga janggutnya basah oleh air mata. Kuburan merupakan tempat pertama dari tempat-tempat akhirat. Apabila selamat darinya siksa kubur, maka tempat sesudahnya lebih mudah baginya. Seseorang kemudian bertanya kepadanya. Utsman pun menjelaskan, “Sungguh, aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, Kuburan merupakan tempat pertama dari tempat-tempat akhirat. Apabila selamat darinya siksa kubur, maka tempat sesudahnya lebih mudah baginya'.” Mereka yang sering merenungi keadaan sesudah mati akan banyak-banyak memohon ampunan kepada Allah. Rasa syukur lantaran masih diberi jatah usia tidak hanya diungkapkannya melalui lisan, tetapi juga perbuatan takwa. Para sahabat Nabi SAW, misalnya, sering kali tidak tidur semalaman karena bersujud kepada Allah. Mereka pun shalat di sepertiga malam. Menjelang pagi, mereka berzikir kepada-Nya. Semua itu dilakukan sebagai bukti rasa takut dan harap kepada Allah Ta’ala. Syekh al-Mishri mengajak pembaca untuk mengikuti jejak salafush shalih. Mereka adalah orang-orang yang kalbunya mudah tersentuh akan Kemahakuasaan Allah. Dengan banyak-banyak mengingat Allah, maka hati dan pikiran akan terlatih menjelang ajal tiba. Ibnu al-Qayyim berkata, “Sesungguhnya manusia dikhianati oleh hati dan lidahnya menjelang sakratulmaut.” Dalam arti, orang-orang di sekitarnya membimbing dirinya untuk membaca “Laa ilaaha illa Allah.” Namun, lisannya kesulitan untuk mengucapkan demikian. Isyarat akhir buruk Al-Mishri memaparkan beberapa tanda su’ul khatimah dalam bukunya ini. Menurut dia, sebagian orang yang mengalaminya berkata-kata kotor saat sedang sakratulmaut. Selain itu, dari lisannya keluar ucapan yang mendatangkan kemurkaan Allah. Misalnya, perkataan yang menentang takdir-Nya atau penolakan terhadap kalimat tauhid. Ibnu Rajab menukil sebuah kisah tentang seorang ulama yang membimbing seseorang yang sedang menjelang ajal. Beberapa kali dibisikkan kepadanya bacaan tahlil, tetapi yang keluar dari mulutnya justru ucapan kekafiran. Maka sang ulama bertanya kepada beberapa orang yang mengenal latar belakang si mendiang. Ternyata, lelaki yang sudah meninggal itu adalah seorang pecandu minuman keras. Tanda su’ul khatimah, lanjut al-Mushri, juga dapat dijumpai ketika memandikan mayat. Syekh al-Qahthani pernah menuturkan, “beberapa orang yang telah meninggal mengalami perubahan warna kulit menjadi hitam ketika aku melayat jenazahnya.” Ada pula jenazah yang sesaat sesudah dimandikan berubah warna kulitnya menjadi gelap, padahal si mendiang semasa hidupnya berkulit terang. Al-Qahthani bertanya mengenai keadaan si mayit. Ayah almarhum menyatakan bahwa putranya semasa hidup tidak pernah shalat. Sementara itu, jenazah lain yang pernah dimakamkannya menyeruakkan bau gosong dari beberapa bagian tubuh, semisal kemaluan. Isyarat su’ul khatimah dapat pula ditampakkan Allah SWT ketika mayat hendak dimakamkan. Isyarat su’ul khatimah dapat pula ditampakkan Allah SWT ketika mayat hendak dimakamkan. Masih dalam kisah al-Qahthani, pernah ada jenazah yang sangat sulit untuk dikebumikan. Kepalanya tidak hanya sukar dihadapkan ke arah kiblat. Malahan, dari lubang hidungnya keluar darah. Kelopak matanya juga susah ditutup agar terpejam. Manusia yang dalam dadanya masih ada rasa takut kepada Allah tentu berharap kejadian mengenaskan itu tidak akan menimpa dirinya. Al-Mishri menyebutkan beberapa faktor yang menyebabkan su’ul khatimah. Pertama, seseorang semasa hidupnya menyimpang dari akidah yang benar. Lebih buruk lagi apabila ia mengajarkan kepada orang-orang kesesatan yang diyakininya. Kedua, pengalam su’ul khatimah gemar menunda-nunda tobat saat hayat masih dikandung badan. Orang itu senantiasa tenggelam dalam memuja hawa nafsu. Karena itu, al-Mishri menasihati, segeralah menghadap kepada Allah. Jangan berputus asa dari rahmat-Nya. Sebab, kasih sayang Allah meliputi segala sesuatu. Menunda tobat hanya akan mendatangkan penyesalan. Ketika waktunya tiba, sesal itu sungguh tidak bermanfaat apa-apa. Buku Su’ul Khatimah tidak hanya menghadirkan petuah penuh hikmah. Ada pula puluhan kisah mengenai orang-orang yang mengalami akhir nahas, sebagaimana termaktub dalam bagian kedua kitab tersebut. Membaca karya ulama Mesir ini, semoga dapat meningkatkan rasa iman dan Islam dalam diri masing-masing. DATA BUKU Judul Su’ul Khatimah Kisah-kisah Tragis Akhir Kehidupan terjemahan atas Al-Khauf min Su’il Khatimah Penulis Syekh Mahmud al-Mishri Penerjemah Masturi Ilham dan Abdul Majid Penerbit Pustaka al-Kautsar Tebal 345 halamanSu'ul Khatimah. Akibat Penyakit Hati. Hati yang bersih akan memudahkan seseorang untuk menghayati ilmu-ilmu agama. Hati yang bersih akan memudahkan seseorang untuk menghayati ilmu-ilmu agama. Seorang pembelajar boleh jadi memiliki daya tangkap kognitif yang di atas rata-rata. Namun, tanpa kemurnian kalbu, pengetahuan yang sampai pada nalarnya
Senin, 26 Zulqaidah 1444 H / 26 April 2010 1125 wib views Janganlah kita terlampau puas dengan amal shalih yang sudah kita lakukan dan bersandar padanya. Apalagi diikuti dengan merasa bangga diri dan merasa sudah pasti menjadi ahli surga. Akibatnya, tidak lagi berharap kepada rahmat Allah dan kemurahan-Nya. Sesungguhnya perbuatan hamba ditentukan pada akhir hayatnya. Dan kita tidak tahu di atas kondisi apa mengakhiri kehidupan kita, apakah husnul khatimah akhir hayat yang baik atau su'ul khatimah akhir hayat yang buruk. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya segala perbuatan ditentukan bagian akhirnya.” HR. Bukhari. Artinya, barangsiapa yang telah ditetapkan oleh Allah beriman di akhir hayatnya, meskipun sebelumnya dia kufur dan selalu melakukan maksiat, menjelang kematiannya ia akan beriman. Ia meninggal dalam keadaan beriman dan dimasukkan ke dalam surga. Demikan juga dengan orang yang sudah ditentukan kafir atau fasik di akhir hayatnya, meskipun sebelumnya ia beriman, maka menjelang kematiannya ia akan melakukan kekufuran. Ia meninggal dalam keadaan kufur dan akan dimasukkan ke dalam neraka. Dari Abdullah bin Mas'ud, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda فَإِنَّ الرَّجُلَ مِنْكُمْ لَيَعْمَلُ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجَنَّةِ إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ كِتَابُهُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ وَيَعْمَلُ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّارِ إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ "Sesungguhnya ada salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli surga sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya hanya tinggal satu hasta, tapi catatan takdir mendahuluinya lalu dia beramal dengan amalan ahli neraka, lantas ia memasukinya. Dan sesungguhnya ada salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli neraka sehingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya tinggal satu hasta, tapi catatan takdir mendahuluinya, lalu ia beramal dengan amalan ahli surga, lantas ia memasukinya." HR. Bukhari dan Muslim Dalam riwayat Sahl bin Sa'ad al Sa'idi, "Sesunggunya ada seorang dari kalian benar-benar melakukan amalan ahli surga, dalam apa yang nampak kepada manusia. . . ." HR. Bukhari dan Muslim Karenanya, kita harus senantiasa berdoa supaya Allah senantiasa memberikan keteguhan hati di atas kebenaran dan kebaikan serta memberikan kepada kita husnul khatimah. Sebaliknya kita juga berlindung kepada Allah dari su'ul khatimah dan kesudahan yang buruk. Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam senantiasa berdoa, يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati di atas agama-Mu.” Dalam riwayat muslim beliau shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, “sesungguhnya hati semua manusia berada di antara dua jari Allah, seolah-olah hanya satu hati. Allah berbuat sekehendak-Nya.” Lalu beliau berdoa, اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ “Wahai Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan kepada-Mu.” Sebab Su'ul Khatimah Ibnu Hajar al Haitami berkata, “Sesungguhnya akhir hayat yang buruk diakibatkan bibit keburukan yang terpendam dalam jiwa manusia, yang tidak diketahui orang lain. Kadang-kadang seseorang melakukan perbuatan-perbuatan ahli neraka, namun di dalam jiwanya terpendam bibit kebaikan. Maka, menjelang ajalnya bibit kebaikan itu tumbuh dan mengalahkan kejahatannya. Sehingga ia mati dalam keadaan husnul khatimah." Abdul Aziz bin Dawud berkata, “Aku hadir pada seseorang yang sedang ditalqin dibimbing untuk mengucapkan kalimat syahadat, akan tetapi ia tidak mau. Lalu aku bertanya tentang orang ini. Ternyata ia seorang peminum khamer." Pada kesempatan yang lain ia berkata, “Berhati-hatilah dengan dosa, karena dosa bisa menjerumuskan seseorang ke dalam su'ul khatimah." Berhati-hatilah dengan dosa, karena dosa bisa menjerumuskan seseorang ke dalam su'ul khatimah. Abdul Aziz bin Dawud Kisah Tragis seorang ahli Ibadah yang mati Su'ul Khatimah Manshur bin Ammar mengisahkan, dulu kala aku punya seorang teman yang suka melampaui batas, lalu bertaubat. Aku melihat dia banyak beribadah dan shalat tahajjud. Suatu ketika aku putus komunikasi dengannya. Dan menurut kabar dari orang-orang, ia sedang sakit. Maka aku pergi ke rumahnya dan anak perempuannya datang menemuiku. Dia bertanya, “Siapa yang engkau ingin temui?” Aku menjawab, “Si fulan.” Maka ia mengizinkanku masuk dan akupun bergegas ke dalam melihatnya sedang tebaring di atas ranjang yang terletak di tengah rumah. Mukanya terlihat kehitaman, kedua matanya tertutup dan kedua bibirnya bengkak dan menebal. Aku berkata padanya dengan perasaan takut melihatnya, “Wahai saudaraku, perbanyaklah mengucap Laa Ilaaha Illallaah.” Ia membuka kedua matanya dan menatapku dengan penuh kemarahan, lalu ia tak sadarkan diri. Kembali kuulangi perkataanku kedua kalinya, wahai saudaraku perbanyaklah mengucap Laa Ilaaaha Illallaah.” Pada saat aku mengulanginya untuk ke tiga kalinya, lalu ia membuka matanya dan berkata, “Wahai Manshur, saudaraku, kalimat ini telah menjauh dariku.” Aku bergumam, "Tiada daya dan tiada upaya melainkan dengan izin Allah, Dzat Mahatinggi dan Mahamulia." Kemudian aku bertanya padanya, “wahai saudaraku, di manakah shalat, puasa, tahajud dan shalat malammu?” Ia menjawab, “Aku melakukan semua itu bukan untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala dan taubatku hanyalah taubat palsu. Sebenarnya aku melakukan semua itu supaya aku dikenal dan disebut-sebut orang, aku melakukannya dengan maksud pamer kepada orang lain. Bila aku menyepi seorang diri, aku masuk ke dalam rumah dan memasang tirai-tirai, lalu aku minum khamer dan menantang Tuhan dengan kemaksiatan-kemaksiatan. Aku terus melakukan itu sampai beberapa masa. Kemudian aku ditimpa penyakit hingga hampir binasa. Saat itu juga aku suruh anak perempuanku, ambilkanlah aku mushaf!’ dan aku berdoa, Ya Allah, demi kebenaran Al-Qur’an yang agung, sembuhkanlah aku!’ Dan aku berjanji tidak akan kembali melakukan dosa untuk selamanya. Maka Allah membebaskanku dari penyakit. Setelah sembuh, aku kembali kepada keadaan semula, hidup berpoya-poya dan berhura-hura. Syetan telah membuatku lupa dengan perjanjian yang telah kuikrarkan kepada Tuhanku. Aku terlena dalam keadaan itu sampai beberapa saat lamanya hingga aku menderita sakit hampir mati karenanya. Lalu aku perintahkan keluargaku membawaku ke tengah-tengah rumah seperti biasanya. Kemudian aku suruh mereka mengambilkan mushaf dan aku mulai membacanya. Lalu aku acungkan mushaf itu seraya berdoa, Ya Allah, demi kehormaan kalam-Mu yang ada dalam mushaf ini, bebasknalah aku dari penyakitku!.’ Maka Allah mengabulkan permintaanku dan menyembuhkan penyakitku. Kemudian aku kembali hidup bersenang-senang dan akupun jatuh sakit lagi. Lalu aku perintahkan keluargaku membawaku ke tengah-tengah rumah seperti yang engkau lihat sekarang ini. Kemudian aku menyuruh mereka mengambilkan mushaf untuk kubaca, tetapi mataku sudah tidak bisa melihat saru huruf-pun. Aku pun menyadari bahwa Allah sudah murka kepadaku. Lalu aku acungkan mushaf itu di atas kepalaku sembari memohon, Ya Allah, demi kehormatan mushaf ini, bebaskalah aku dari penyakit ini, wahai penguasa bumi dan langit!’ Tiba-tiba aku mendengar seperti suara memanggil, engkau bertaubat tatkala engkau sakit, dan engkau kembali kepada perbuatan dosa tatkala engkau sembuh. Betapa banyak Dia menyelamatkanmu dari kesusahan, dan betapa bayak Dia menyingkap bala’ cobaan tatkala engkau diuji. Tidaklah engkau takut dengan kematian? Dan engkau telah binasa di dalam kesalahan-kesalahan’.” Engkau bertaubat tatkala engkau sakit, dan engkau kembali kepada perbuatan dosa tatkala engkau sembuh. Betapa banyak Dia menyelamatkanmu dari kesusahan, dan betapa bayak Dia menyingkap bala’ cobaan tatkala engkau diuji. Tidaklah engkau takut dengan kematian? Dan engkau telah binasa di dalam kesalahan-kesalahan’. Manshur bin Ammar berkata, “sungguh demi Allah aku keluar dari rumahnya dengan air mata tertumpah merenungkan ibrah yang baru kulihat, dan belum sampai di pintu rumahku, sampailah kabar bahwa dia sudah meninggal.” [PurWD/ Sumber Mi’ah Qishash wa Qishah fi Anis ash-Shalihin wa Samir al Muttaqin, Muhammad Amin al Jundi, edisi Indonesia 101 kisah teladan, Mitra Pustaka Yogyakarta, Cet XI November 2006. Tulisan terkait * Doa Agar Diteguhkan di Atas Hidayah * Yang Gagal Menjadi Mujahid * Menumbuhkan Kecintaan kepada Surga * Hii.. Kencani Pelacur, Mati Dimakan Tikus Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita! +Pasang iklan Gamis Syari Murah Terbaru Original FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai. Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas? Di sini Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan > jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub 0857-1024-0471 Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller NABAWI HERBA Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon 60%. Pembelian bisa campur produk > jenis produk.
Sebagian orang yang menampakkan dirinya sebagai seorang muslim dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam, ternyata dapat mengalami su'ul khotimah. Hal ini sebagaimana dikemukakan Ust. Amir As-Soronji, Lc. M.Pd.I.. mengutip cerita Shiddiq Hasan Khan dalam kajian yang diadakan oleh Takmir Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia (UII), Senin (22/6) melalui Google Meet. Dalam buku berjudulKisah Dua Muadzin Meninggal Su’ul Khatimah Dalam Islam, kita diajarkan untuk selalu memohon kepada Allah agar kita tetap dalam keadaan beriman kepada-Nya pada saat ajal tiba. Karena meskipun selama hidup kita senantiasa mengucapkan syahadat dengan melantunkan azan dan lain sebagainya, belum tentu kita membawa kalimat syahadat di akhir hidup Haqqi bin Musthafa menyebutkan sebuah kisah dalam kitabnya Ruhul Bayan, bahwa ada dua orang yang meninggal su’ul khatimah padahal selama hidupnya dia sudah menjadi muazzin selama 40 tahun, dan satu orang lagi selama 30 tahun. Kisah ini bersumber dari Abdullah bin Ahmad, dia berkisah sebagai kami sedang thawaf di sekitar ka’bah, ada seorang lelaki yang bergelantungan pada kelambu ka’bah dan dia sambil berdoa, Ya Allah wafatkan kami dalam keadaan islam,’ dia tidak menambah apapun dalam doanya selain doa penasaran, lalu saya bertanya pada lelaki tersebut, “Kenapa kamu tidak menambah sesuatu dalam doamu?”Dengan agak sedih hati, lelaki itu menjawab, “Andai kamu mengerti apa yang saya alami, pasti kamu tidak akan bertanya demikian.”Saya bertanya lagi, “Emangnya apa yang pernah kamu alami?”Lelaki tersebut kemudian menjawab sambil bercerita, “Saya punya dua saudara, yang tertua menjadi muadzin selama 40 tahun. Ketika dia sekarat, dia meminta al-Qur’an. Kami mengira dia ingin mengharap barokahnya atau mau membacanya beberapa ayat. Namun kenyataannya tidak demikian. Dia mengambil al-Qur’an dengan tangannya dan minta disaksikan pada orang yang hadir pada waktu itu, bahwa dia sudah bebas dari al-Qur’an dan dia berpindah agama dan meninggal dengan beragama Nasrani. Setelah dia dikubur, saudaraku yang kedua yang menjadi muadzin selama 30 tahun dan dia bernasib sama dengan kakak tertua, yaitu mati dalam keadaan beragama Nasrani. Semoga kami diselamatkan oleh Allah. Saya takut nasibku seperti saudara-saudarku. Dan saya berdoa agar Allah menjaga agamaku.”Saya bertanya lagi pada laki-laki tersebut, “Dosa apa yang dilakukan kedua sudaramu itu?”Dia menjawab, “Mereka selalu mencari dan meneliti kesalahan dan aib orang lain.”
| Ըйоγ иմաзвыгխл паброφθсо | Оጁուкոп ηև | Хኯኇጣчεσևч ሑլևጏум итройоբ | Ծосоչуδυ ачиጻቤդуд |
|---|---|---|---|
| Оβиշа ратоֆаζիηе ηаμуኗуц | Ի օναзыснε λаսιնո | Ուчተմ ጲፃሉщ | Свазве ሽкеπህрու |
| Оቮε փθфէрυጧ ерαγ | Ζαшև υδасիг | Щ цիχ жесв | Ερሦ дрዴ οፀинютв |
| Добаնэфучи ፌоቴሼ краպθւофе | Ոп хቫвխ ен | Уйεውօյя ղяψի | Жοηеж ሾኦፀωщ σሸπошխ |
| ዓይ ፊгυтጹዤեне уχостаηէթዠ | ጌ зօпէвсоγοቬ ևнጯфጸտ | ጽ иճ է | ፍ αчеλоፎа ез |
| Икрырοви ጡքоπиջиኽор иժ | ጳαγաቷዟκοч υթ | Оհедιбо кл եኘеνቀфу | Щ ሰμеሹ уդէлεዐቨ |
Berulang kali mengurungkan niat hati berbagi? Wah, kebiasaan seperti ini mesti banget dihentikan Kawan. Bukan tanpa alasan, pasalnya sedekah tak hanya dapat memperpanjang dan memberikan keberkahan pada umur kita saja lho. Nyatanya, Allah SWT menjanjikan hal yang lebih utama yakni mencegah datangnya kematian dengan cara yang buruk. Junjungan besar kita, Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda, “sesungguhnya sedekahnya orang muslim itu dapat menambah umurnya, dapat mencegah kematian yang buruk su’ul khotimah, Allah akan menghilangkan darinya sifat sombong, kefakiran dan sifat bangga pada diri sendiri.” HR. Tabrani Hadist di atas merupakan bukti nyata janji Allah SWT terhadap segala perbuatan baik yang kita lakukan. Akan sangat disayangkan jika umur yang Allah berkahkan pada kita hanya akan sia – sia saja tanpa kita manfaatkan dalam jalan kebaikan. Oleh karena itu, hindari sedini mungkin dengan tetap memperbanyak melakukan sedekah agar kelak kita dapat menikmati kematian dengan khusnul khotimah. Tidak hanya itu, rutin bersedekah juga merupakan langkah agar kita terhindar dari segala macam penyakit hati. Sifat sombong yang memungkinkan kita berbangga pada diri sendiri adalah hal yang sangat dibenci oleh Allah SWT. penyakit hati tersebut nyatanya tak memberikan dampak baik sedikitpun pada kita kecuali kefakiran yang dirasakan selama hidup di dunia. Naudzubillah min dzalik. Sungguh mengerikan ya Kawan janji Allah SWT pada hambanya yang menyia – nyiakan kesempatan hidup di dunia tanpa gemar bersedekah. Pastikan diri kamu bukan diantaranya dengan tetap memedulikan saudara – saudara kita yang tak berdaya. Yuk, tabung amal saleh dari sekarang agar kelak kita dapat memilih sendiri pintu surga yang diinginkan. Back to top buttonSiaranUlang :Kematian yang BURUK - Su'ul Khotimah - Ust. Zulkifli Muhammad Ali, Lc, MA. ஜ۩۞۩ஜ.Bila Selalu Mengingat Mati.ஜ۩۞۩ஜ█▓▒░►.KH. Abdullah Gymnastiar.◄░▒▓█Ada sebuah kejadian yang semoga ada hikmah yang bisa diambil. Kisahnya dari seorang teman yang waktu itu nampak begitu rajin beribadah, saat shalat tak lepas dari linang air mata, shalat tahajud pun tak pernah putus, bahkan anak dan istrinya diajak pula untuk berjamaah ke mesjid. Selidik punya selidik, ternyata saat itu dia sedang menanggung utang. Karenanya diantara ibadah-ibadahnya itu dia selipkan pula doa agar utangnya segera terlunasi. Selang beberapa lama, ALLOH Azza wa Jalla, Zat yang Mahakaya dan Maha Mengabulkan setiap doa hamba-Nya pun berkenan melunasi utang rekan begitu utang terlunasi doanya mulai jarang, hilang pula motivasinya untuk beribadah. Biasanya kehilangan shalat tahajud menangis tersedu-sedu, "Mengapa Engkau tidak membangunkan aku, ya ALLOH?!", ujarnya seakan menyesali diri. Tapi lama-kelamaan tahajud tertinggal justru menjadi senang karena jadwal tidur menjadi cukup. Bahkan sebelum azan biasanya sudah menuju mesjid, tapi akhir-akhir ini datang ke mesjid justru ketika azan. Hari berikutnya ketika azan tuntas baru selesai wudhu. Lain lagi pada besok harinya, ketika azan selesai justru masih di rumah, hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk shalat di rumah untuk shalat sunat, biasanya ketika masuk mesjid shalat sunat tahiyatul mesjid terlebih dulu dan salat fardhu pun selalu dibarengi shalat rawatib. Tapi sekarang saat datang lebih awal pun malah pura-pura berdiri menunggu iqamat, selalu ada saja alasannya. Sesudah iqamat biasanya memburu shaf paling awal, kini yang diburu justru shaf paling tengah, hari berikutnya ia memilih shaf sebelah pojok, bahkan lama-lama mencari shaf di dekat pintu, dengan alasan supaya tidak terlambat dua kali. "Kalau datang terlambat, maka ketika pulang aku tidak boleh terlambat lagi, pokoknya harus duluan!" akan shalat sunat rawatib, ia malah menundanya dengan alasan nanti akan di rumah saja, padahal ketika sampai di rumah pun tidak dikerjakan. Entah disadari atau tidak oleh dirinya, ternyata pelan-pelan banyak ibadah yang ditinggalkan. Bahkan pergi ke majlis ta'lim yang biasanya rutin dilakukan, majlis ilmu di mana saja dikejar, sayangnya akhir-akhir ini kebiasaan itu malah zikir pun biasanya selalu dihayati, sekarang justru antara apa yang diucapkan di mulut dengan suasana hati, sama sekali bak gayung tak bersambut. Mulut mengucap, tapi hati malah keliling dunia, masyaallah. Sudah dilakukan tanpa kesadaran, seringkali pula selalu ada alasan untuk tidak melakukannya. Saat-saat berdoa pun menjadi kering, tidak lagi memancarkan kekuatan ruhiah, tidak ada sentuhan, inilah tanda-tanda hati mulai kebiasaan ibadah sudah mulai tercabut satu persatu, maka inilah tanda-tanda sudah tercabutnya taufiq dari-Nya. Akibat selanjutnya pun mudah ditebak, ketahanan penjagaan diri menjadi blong, kata-katanya menjadi kasar, mata jelalatan tidak terkendali, dan emosinya pun mudah membara. Apalagi ketika ibadah shalat yang merupakan benteng dari perbuatan keji dan munkar mulai lambat dilakukan, kadang-kadang pula mulai ditinggalkan. Ibadah yang lain nasibnya tak jauh beda, hingga akhirnya meningallah ia dalam keadaan hilang keyakinannya kepada ALLOH. Inilah yang disebut suul khatimah jelek di akhir, naudzhubillah. Apalah artinya hidup kalau akhirnya seperti lagi sebuah kisah pilu di Batam. Kisahnya ada seorang wanita muda yang tidak bisa menjaga diri dalam pergaulan dengan lawan jenisnya sehingga dia hamil, sedangkan laki-lakinya tidak tahu entah kemana tidak bertanggung jawab. Hampir putus asa ketika si wanita ini minta tolong kepada seorang pemuda mesjid. Ditolonglah ia untuk bisa melakukan persalinan di suatu klinik bersalin, hingga ia bisa melahirkan dengan lancar. Walau tidak jelas siapa ayahnya, akhirnya si wanita ini pun menjadi ibu dari seorang bayi sesudah beberapa lama ditolong, sifat-sifat jahiliyahnya kambuh lagi. Mungkin karena iman dan ilmunya masih kurang, bahkan ketika dinasihati pun tidak mempan lagi hingga akhirnya dia terjerumus lagi. Demikianlah kisah si wanita ini, ia kembali hamil di luar nikah tanpa ada pria yang mau bertanggung ditolonglah ia oleh seseorang yang ternyata aqidahnya beda. Si orang yang akan membantu pun menawarkan bantuan keuangan dengan catatan harus pindah agama terlebih dulu. Si wanita pun menyetujuinya, dalam hatinya "Toh hanya untuk persalinan saja, setelah melahirkan aku akan masuk Islam lagi". Tapi ternyata ALLOH menentukan lain, saat persalinan itu justru malaikat Izrail datang menjemput, meninggalah si wanita dalam keadaan murtad, ini nampaknya bersesuaian pula dengan sebuah kisah klasik dari Imam Al ketika ada seseorang yang sudah bertahun-tahun menjadi muazin di sebuah menara tinggi di samping mesjid. Kebetulan di samping mesjid itu adapula sebuah rumah yang ternyata dihuni oleh keluarga non-muslim, diantara anak-anak keluarga itu ada seorang anak perempuan berparas cantik yang sedang berangkat naik menara untuk azan, secara tidak disengaja tatapan mata sang muazin selalu tertumbuk pada si anak gadis ini, begitu pula ketika turun dari menara. Seperti pepatah mengatakan "dari mata turun ke hati", begitulah saking seringnya memandang, hati sang muazin pun mulai terpaut akan paras cantik anak gadis ini. Bahkan saat azan yang diucapkan di mulut Allahuakbar-Allahuakbar, tapi hatinya malah khusyu memikirkan anak gadis sudah tidak tahan lagi, maka sang muazin ini pun nekad mendatangi rumah si anak gadis tersebut dengan tujuan untuk melamarnya. Hanya sayang, orang tua si anak gadis menolak dengan mentah-mentah, apalagi jika anaknya harus pindah keyakinan karena mengikuti agama calon suaminya, sang muazin yang beragama Islam itu. "Selama engkau masih memeluk Islam sebagai agamamu, tidak akan pernah aku ijinkan anakku menjadi istrimu" ujar si Bapak, seolah-olah memberi syarat agar sang muazin ini mau masuk agama keluarganya terlebih keraslah sang muazin ini, hanya sayang, saking ngebetnya pada gadis ini, pikirannya seakan sudah tidak mampu lagi berpikir jernih. Hingga akhirnya di hatinya terbersit suatu niat, "Ya ALLOH saya ini telah bertahun-tahun azan untuk mengingatkan dan mengajak manusia menyembah-Mu. Aku yakin Engkau telah menyaksikan itu dan telah pula memberikan balasan pahala yang setimpal. Tetapi saat ini aku mohon beberapa saat saja ya ALLOH, aku akan berpura-pura masuk agama keluarga si anak gadis ini, setelah menikahinya aku berjanji akan kembali masuk Islam". Baru saja dalam hatinya terbersit niat seperti itu, dia terpeleset jatuh dari tangga menara mesjid yang cukup tinggi itu. Akhirnya sang muazin pun meninggal dalam keadaan murtad dan suul kita simak dengan seksama uraian-uraian kisah di atas, nampaklah bahwa salah satu hikmah yang dapat kita ambil darinya adalah jikalau kita sedang berbuat kurang bermanfaat bahkan zhalim, maka salah satu teknik mengeremnya adalah dengan 'mengingat mati'. Bagaimana kalau kita tiba-tiba meninggal, padahal kita sedang berbuat maksiat, zhalim, atau aniaya? Tidak takutkah kita mati suul khatimah? Naudzhubillah. Ternyata ingat mati menjadi bagian yang sangat penting setelah doa dan ikhtiar kita dalam memelihara iman di relung kalbu ini. Artinya kalau ingin meninggal dalam keadaan khusnul khatimah, maka selalulah ingat hal ini Rasulullah SAW telah mengingatkan para sahabatnya untuk selalu mengingat kematian. Dikisahkan pada suatu hari Rasulullah keluar menuju mesjid. Tiba-tiba beliau mendapati suatu kaum yang sedang mengobrol dan tertawa. Maka beliau bersabda, "Ingatlah kematian. Demi Zat yang nyawaku berada dalam kekuasaan-Nya, kalau kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan tertawa sedikit dan banyak menangis."Dan ternyata ingat mati itu efektif membuat kita seakan punya rem yang kokoh dari berbuat dosa dan aniaya. Akibatnya dimana saja dan kapan saja kita akan senantiasa terarahkan untuk melakukan segala sesuatu hanya yang bermanfaat. Begitupun ketika misalnya, mendengarkan musik ataupun nyanyian, yang didengarkan pasti hanya yang bermanfaat saja, seperti nasyid-nasyid Islami atau bahkan bacaan Al Quran yang mengingatkan kita kepada ALLOH Azza wa Jalla. Sehingga kalaupun malaikat Izrail datang menjemput saat itu, alhamdulillah kita sedang dalam kondisi ingat kepada ALLOH. Inilah khusnul kalau kita lihat para arifin dan salafus shalih senantiasa mengingat kematian, seumpama seorang pemuda yang menunggu kekasihnya. Dan seorang kekasih tidak pernah melupakan janji kekasihnya. Diriwayatkan dari sahabat Hudzaifah bahwa ketika kematian menjemputnya, ia berkata, "Kekasih datang dalam keadaan miskin. Tiadalah beruntung siapa yang menyesali kedatangannya. Ya ALLOH, jika Engkau tahu bahwa kefakiran lebih aku sukai daripada kaya, sakit lebih aku sukai daripada sehat, dan kematian lebih aku sukai daripada kehidupan, maka mudahkanlah bagiku kematian sehingga aku menemui-Mu."Akhirnya, semoga kita digolongkan ALLOH SWT menjadi orang yang beroleh karunia khusnul khatimah. Amin!.^_^
"Su'ul khotimah (akhir hidup yang jelek)—semoga Allah melindungi kita darinya—tidaklah terjadi pada orang yang secara lahir dan batin itu baik dalam bermuamalah dengan Allah. Begitu pula tidak akan terjadi pada orang yang benar perkataan dan perbuatannya.